info@edubuku.com 0882-164-35325
Pola Pikir Pebisnis Muslim
3 July, 2015
0

2.-5-Jurus-Dapatkan-Inspirasi-Usaha-Dengan-Pola-Pikir-Miliarder-3Setiap muslim harus benar dalam memecahkan persoalan yang akan dihadapi. Para ulama telah menjelaskan bagaimana seharusnya seorang muslim berpikir ketika menemukan persoalan-persoalan yang harus dipecahkan. Pola berpikir ini oleh para ulama disebut dengan metode berpikir tasyri’ (berpikir sesuai hukum syari’at).

Syaikh An-Nabhani rahimahullahu ta’ala, memberikan suatu metode yang khas dalam memecahkan persoalan sesuai syariat Islam. Metode ini digunakan untuk menentukan status hukum syara’ (ketentuan syari’at) atas suatu fakta, baik untuk masalah baru (yang memerlukan ijtihad) maupun sekedar penerapan hukum yang sudah ada pada masalah baru (sekedar tathbiq al-hukm ‘ala al-mas`alah al-jadidah).

Metode tersebut secara garis besar menggunakan 3 (tiga) langkah yang harus ditempuh dalam menetapkan status hukum, yaitu:

Pertama, memahami fakta/problem secara apa adanya (fahm al-musykilah al-qa`imah). Fakta ini dalam ilmu ushul fiqih dikenal dengan istilah manath (Lihat Asy-Syatibi, Al-Muwafaqat, III/24),

Kedua, memahami nash-nash syara’ (fahm an- nushush asy-syar’iyah) yang berkaitan dengan fakta tersebut (jika belum ada hukumnya). Atau memahami hukum-hukum syara’ (fahm al-ahkam asy-syar’iyah) yang telah ada yang berkaitan dengan fakta tersebut (jika sudah ada hukumnya),

Ketiga, meng-istinbath (menggali) hukum dari nash dan menerapkannya pada fakta (jika fakta itu belum ada hukum syara’nya). Atau menerapkan hukum syara’ yang telah ada pada fakta (jika sudah ada hukum syara’nya).

Inilah pola pikir yang seharusnya digunakan oleh setiap pengusaha muslim. Dengan cara berpikir seperti ini maka kita akan terhindar dari memperturutkan hawa nafsu atau mengedepankan manfaat atau materi saja dalam menentukan status hukum terhadap suatu perbuatan atau benda.

Sebagai contoh, ketika dalam usaha kita menemukan relitas bahwa untuk mengembangkan usaha yang sedang dijalankan kita memerlukan pendanaan. Dengan cara bagaimana kita memenuhi kebutuhan pendanaan tersebut?

Apakah kita akan melakukan pinjaman dari Bank atau lembaga keuangan lainnya?

Ataukah kita melakukan pinjaman ke teman atau saudara dengan perjanjian tambahan ‘keuntungan’ ketika pengembaliannya?

Ataukah kita akan melakukan syirkah mudharabah (bekerja sama bagi hasil) dengan kerabat, teman atau orang lain?

Atau cara lainnya?

Semua itu adalah realitas yang mungkin kita hadapi. Bagaimana kita akan memutuskannya?

Langkah pertama yang harus dilakukan adalah mencari tahu secara pasti tentang fakta-fakta model pendanaan tersebut apa adanya.

Setelah itu, cari tahu apakah dari model-model tersebut ada yang tidak sesuai dengan syari’ah. Caranya bisa dengan bertanya kepada para ulama atau mempelajari kitab-kitab fiqih muamalah yang terkait terhadap fakta tersebut. Bagaimana jika ada perbedaan pendapat dan pandangan hukum syari’at dari para ulama terkait realitas-realitas tersebut? Maka kewajiban kita adalah memilih pendapat yang paling kuat (rajih), bukan memilih sekehendak hati disesuaikan dengan kebutuhan pribadi. Bagaimana metode memilih dan mengadopsi pendapat yang rajih, in syaa Allah akan kita diskusikan pada lain waktu.

Setelah kita memilih suatu pendapat maka kemudian kita harus menetapkan status hukum setiap realitas tersebut pada diri kita untuk kita amalkan. Kita terikat dengan hukum syari’at yang telah kita adopsi. Dan wajib beramal dengannya.

Begitulah seharusnya pola pikir kita sebagai seorang muslim. Semoga Allah memudahkan kita untuk memahami setiap petunjuk-Nya. Amin.

(adm)

sumber : shariapreneur.com