Motivasi

Bahagia Yang Hakiki

Posted On Juli 9, 2015 at 3:11 am by / No Comments

happiness

Bahagia.. ya satu kata “sakti” yang banyak dicari orang, bahkan dijadikan tujuan hidup adalah utk peroleh kebahagiaan. Namun bahagia itu yang bagaimana ? Ada yang orang bahagia itu ketika memiliki pendapatan 30 juta rupiah per bulan, ada yang bahagia ketika dapat membuat orang tua senang, ada juga yang bahagia apabila telah memiliki rumah dan mobil mewah. Setiap orang masing-masing memiliki standar bahagia yang berbeda
Bermacam-macam keinginan standar akan bahagia, namun tentunya kita ingin mencari mana makna bahagia yang sejati atau hakiki. Secara garis besar bahagia itu dikelompokan menjadi tiga. Pertama, bahagia secara fisik atau materi. Kedua, bahagia secara emosional. Ketiga, bahagia secara spiritual.

Bahagia Fisik atau materi, merupakan tahapan kebahagiaan terendah tingkatannya, seperti keinginan akan rumah, gadget, gaji tinggi, mobil mewah, dan lain-lain hal terkait materi. Kenapa terendah? karena saat tlah mmliki kebahagiaan ini dengan cepat kita terpuaskan & berganti keinginan materi lain yang tiada habisnya. Kita lihat Jepang, dengan pnghasilan pnduduknya yg tinggi, fasilitas komplit, apapun “surga dunia” ada disana, namun apa yang terjadi? Jepang tingkat bunuh dirinya masuk tertinggi 33.000 orang per tahun. Padahal kebutuhan akan materi semua tercukupi, tentunya pasti ada yang salah disini. Seorang teman yang tinggal di Tokyo-Jepang cerita bahwa presisi tepat waktu kereta sinkanzen (kereta super cepat) sangat tinggi, namun tiap bulan selalu ada keterlambatan kereta sinkanzen, bukan karena rusak tapi karena ada yang bunuh diri menabrakkan diri ke kereta.

Bahagia emosional, betulkah ini bahagia yangg hakiki? Inipun dapat hilang ketika terjadi suatu keadaan yang merenggutnya. Dari Jepang kita beralih ke negara barat yang juga sebagai negara makmur dengan kebebasan yang diusungnya semakin klop “bahagia”. Ternyata Amerika dan Perancis sebagai negara nomor satu dalam hal orang yang memiliki depresi dengan jumlah terbanyak. Disana 1 dari 5 orang Amerika Serikat dianggap mengalami depresi sekitar 40 juta orang dewasa (18 % dari penduduk). Yang oleh pemerintah memakan biaya lebih dari $ 42 milyar pertahun yakni hampir sepertiga dari RUU kesehatan mental negara sebesar $ 148 milyar. Gangguan kecemasan adalah penyakit yang paling umum dihadapi. Dalam mendapatkan kebahagiaan, Amerika Serikat dianggap telah gagal.
Secara materi mereka cukup dan secara emosi juga bisa terpenuhi dengan hiburan-hiburan yang luar biasa, namun hanya seperti doping, efeknya sebentar setelah itu kembali hampa. Kembali menunjukkan bahwa kebahagiaan hakiki bukanlah materi yang sifatnya semu, mudah membuat bosan, seperti barang-barang idaman yang setelah beli menjadi terasa biasa saja. Juga kebahagiaan sejati bukanlah emosi kedamaian, karena hampir bisa dipastikan hati itu seperti rolercoaster yang mudah terbolak balik dengan sangat cepat. Ketika bahagia memliki pasangan hidup yang baik, memiliki anak yang pintar, orang tua yang sehat, atau bos yang pengertian, apakah ini kekal? Ketika disulut sedkit hal spele terjadi pertengkaran hebat dengan pasangan seakan kebaikan yang lalu tak tampak lagi, yang ada hanya caci maki. Ketika anak tumbuh dewasa yang terkdang sulit untuk diberi arahan, yang dulu tampak lucu beralih jadi ujian kesabaran. Ketika orang yang dikasihi itu smua atau orang tua meninggalkan dunia selama-lamanya, yang ada kesedihan kerinduan & ingatan pilu penyesalan. Kembali ternyata kebahagiaan emosional atau perasaan tidak dapat dijadikan dasar karena hati mudah terbolak balik, yang tidak bisa kekal terhadap sesuatu

Kebahagiaan tertinggi tingkatannya adalah spiritual/agama, dimana semua yang dilakukan untuk mendapat ridho Allah semata. Kita yakin bahwa muncul kita terlahir didunia adalah karena Allah yang menciptakan, tanpa-Nya tidak ada makhluk yang bernama manusia. Tentunya sebagai Pencipta, Allah tahu yang terbaik untuk manusia, mana yang baik untuknya dan mana yang buruk, Dia tahu sampai hal terkecil sekalipun.
Karena Allah menyayangi supaya hamba-Nya tidak salah jalan, maka diturunkan petunjuk berupa Kitab Suci sebagai petunjuk yang akan membawa pada kebahagiaan hidup dunia akhirat. Berbahagialah kita hidup di zaman yang telah sempurna diturunkan petunjuk Allah, tinggal menjalankan acuan tersebut dipastikan tidak akan salah jalan. Namun kadang malah kita yang cari solusi lain diluar petunjuk tersebut. Ibarat benerin kulkas pake buku panduan TV, nggak nyambung. Yang ada membuat jadi rusak.

Ketika kebahagiaan semata adalah ketika Allah ridho dengan jalankan setiap perintahNya, maka akan diturunkan keberkahan, rahmat, taufik kepada orang tersebut. Kita-pun menjad pribadi yang menggenggam dunia, bukan sbaliknya yg malah dipermainkan oleh dunia, mengejar sesuatu yang tidak membawa pada kebahagiaan sejati. Bahkan ketika rata-rata orang kebanyakan menyebut kondisi seseorang ‘menderita’, sebenarnya itulah kebahagiaan ssngguhnya karena telah berada di jalan yang lurus. Belum ada ceritanya orang yang dekat dgn Allah lalu bunuh diri, yang ada setiap cobaan dijadikan sebagai introspeksi diri dan sabar sebagai penghapus dosa.

Semoga kita bisa mencapai kebahagiaan spiritual, karena balasan bagi yang taat bukan hanya bahagia di dunia ini saja, namun kelak di akhirat yg nikmatnya tiada tara dibanding dunia dan seisinya, yaitu surga!

Agung Nugroho Susanto                                                                                                                                              (CEO and Founder Simply Group)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *