info@edubuku.com 0882-164-35325
Menjual Akhirat Demi Dunia
4 August, 2015
0

DUNIA+DALAM+GENGGAMAN

Apa yang paling penting di dalam benak kita? Menunjukkan seberapa jauh pandangan kita arahkan, bisa bersifat  jangka pendek, jangka panjang atau jangka panjang sekali (akhirat).  Sebagai seorang Muslim, kita akan senantiasa mengaitkan segala aktivitasnya dengan kehidupan akhirat artinya berorientasi jangka panjang sekali. Maknanya dalam mengejar berbagai kenikmatan hidup di dunia kita tidak boleh sampai menggadaikan kehidupan akhirat kelak.

Allah SWT memaklumi manusia yang selalu diliputi rasa ingin akan kedudukannya, harta benda, anak-anak, wanita dan berbagai kesenangan. Namun Allah SWT juga mengingatkan bahwa tempat kembali yang terbaik adalah surga di akhirat. Sebagaimana firman Allah dalam QS Ali Imran {3}:14

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diinginkan yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)”.

Namun sayangnya banyak sekali di antara pengusaha karena sikap pragmatisnya memilih melanggar syariat Islam demi mendapat kesenangan hidup di dunia.  Apakah hal ini pilihan yang bijak?

Makna Kesuksesan

Sukses di dunia bukan berarti harus mengorbankan akhirat, karena logikanya jika berorientasi pada tujuan jangka panjang maka tujuan jangka pendek akan ikut tercapai. Jika jangka panjang sekali tercapai maka tujuan jangka panjang dan jangka pendek akan tercapai juga.

Sebaliknya jika kita berorientasi jangka pendek maka tujuan jangka panjang apalagi jangka panjang sekali tidak akan diraih.  Pilihan yang bijaksana tentunya berorientasi jangka panjang dan panjang sekali.  Jadi benarlah pandangan Islam yang menjadikan ridha Allah SWT sebagai orientasi hidup seorang Muslim, sedangkan ridha Allah SWT tidak akan diraih kecuali dengan menjalankan aturan Islam.

Bisnis yang Merugi

Dari pandangan tersebut maka bisnis yang merugi itu bukanlah bisnis yang membuat kita rugi secara materi, tetapi bisnis yang mengorbankan akhirat hanya untuk mendapatkan keuntungan di dunia saja.

Bisnis model seperti ini hakikatnya adalah model bisnis yang menjual akhirat untuk keuntungan dunia, mengejar tujuan jangka pendek dengan mengorbankan tujuan jangka panjang dan jangka panjang sekali.

Nash-nash Alquran menjelaskan bahwa Allah SWT menginginkan manusia mengutamakan kehidupan akhiratnya dan mempertukarkannya dengan amal-amal shalih di kehidupan di dunia. Dengan kata lain kita menjual dunia kita untuk kepentingan akhirat. caranya, dengan memperhatikan betul setiap langkah kita di dunia agar selalu sejalan dengan perintah dan laranganNya agar Allah SWT mau membelinya dan menukarkannnya dengan surga.

Surga itu mahal harganya. Kenikmatannya tak tertandingi. Siapa yang mau masuk surga maka –pada dasarnya- harus membelinya dengan sesuatu yang paling berharga yang dimilikinya.

Rasulullah SAW bersabda, “Ketahuilah, sesungguhnya barang dagangan Allah itu mahal. Ketahuilah, sesungguhnya barang dagangan Allah itu adalah surga.” (HR. Al-Tirmidzi).

Manusia Bodoh

Manusia bodoh adalah mereka yang menjual akhiratnya untuk kepentingan dunia yang sementara. Mereka sedikit bersyukur dan tidak takut berbuat maksiat. Mereka tidak pernah cinta kepada Allah, dan tidak pernah berusaha untuk ber-taqarrub (dekat) dengan-Nya.
Akhir-akhir ini banyak kalangan pengusaha yang memilih menjadi orang-orang bodoh. Berkali-kali diberitakan pengusaha yang tertangkap karena menyuap pejabat untuk mendapatkan proyek atau menjadi perantara bagi politisi untuk mendapatkan proyek pemerintah dengan cara tidak benar.  Memuluskan seseorang dalam sengketa pilkada dengan menyuap hakim dan lain sebagainya.

Kedudukan dunia yang ingin diraih oleh orang lain didukung oleh pengusaha-pengusaha bodoh ini. Orang-orang seperti ini lebih celaka lagi karena ia sebenarnya sedang menjual akhiratnya demi keuntungan dunia orang lain.

Ada baiknya kita menyimak nasehat dari Umar bin Abdul Azis r.a sebagai berikut.  Ketika waktu dhuha Umar bin Abdul Aziz duduk bersama beberapa orang yang gemar mendengarkan nasihat-nasihatnya.

Umar berkata mengajarkan dan mendidik mereka: “Sebutkan kepadaku orang yang paling bodoh di antara manusia?” Mereka menjawab, “Seseorang yang menjual akhirat untuk dunianya”.  Umar bin Abdul Aziz berkata tetapi kesedihan terpancar dari raut wajahnya, “Maukah saya beritahukan orang yang lebih bodoh lagi darinya?” Mereka menjawab, “Ya”

Umar bin Abdul Aziz berkata, “Seseorang yang menjual akhiratnya untuk dunia orang lain”.

Oleh Heru Binawan dalam mediaumat.com