info@edubuku.com 0882-164-35325
Menjadi Pengusaha yang Dirindu Surga, Mau?
7 August, 2015
0

pilih-surga-neraka-choose-chose

Keuntungan bisnis yang didapat dinikmati dengan menunaikan hak keluarga dan hak Allah, perjuangan di jalan Allah.

Ketika Rasullullah SAW membutuhkan dana untuk perang Tabuk yang mahal dan sulit karena medannya jauh, ditambah situasi Madinah yang sedang musim panas. Abdurrahman bin Auf memeloporinya dengan menyumbang 200 uqiyah emas (1 uqiyah setara dengan 50 dinar) sampai-sampai Umar bin Khattab berbisik kepada Rasulullah SAW “ Sepertinya Abdurrahman berdosa kepada keluarganya karena tidak meninggali uang belanja sedikitpun untuk keluarganya”. Mendengar ini, Rasulullah SAW bertanya pada Abdurrahman bin Auf, “Apakah kamu meninggalkan uang belanja untuk istrimu ?”, “ Ya!” Jawab Abdurrahman, “Mereka saya tinggali lebih banyak dan lebih baik dari yang saya sumbangkan”. “Berapa?” Tanya Rasulullah. “Sebanyak rezeki, kebaikan, dan pahala yang dijanjikan Allah,jawabnya. Subhanallah.

Dikisahkan juga bahwa di badan beliau terdapat dua puluh bekas luka di perang Uhud, dan bahwa salah satu dari bekas luka ini meninggalkan cacat pincang yang tidak sembuh-sembuh pada salah satu kakinya, sebagaimana pula beberapa gigi seri rontok di perang Uhud, yang menyebabkan kecadelan yang jelas pada ucapan dan pembicaraannya. Di waktu itulah orang baru akan menyadari bahwa laki-laki yang berperawakan tinggi dengan air muka berseri dan kulit halus, pincang serta cadel, sebagai tanda jasa dari perang Uhud, itulah orang yang bernama Abdurrahman bin ‘Auf! Semoga Allah ridla kepadanya dan ia pun ridla kepada Allah!

Para pengusaha; Abdurahman bin ‘Auf, tidak saja mencukupi nafkah keluarga, dermawan pada sesama serta ringan jiwanya membelanjakan hartanya di jalan Allah. Namun, beliau juga turut turun langsung ke medan jihad bersama Rosulullah SAW dan sahabat-sahabat beliau. Sehingga tidaklah cukup seseorang berkata, “ Saya kan telah membiayai perjuangan di jalan Allah.” Sementara dia tidak turut langsung dalam barisan perjuangan di jalan Allah SWT. Para pengusaha, apabila kita berkomitmen surga merindukan kita, maka sambutlah setiap seruan perjuangan di jalan Allah SWT, perjuangan penegakan syariah Allah dalam bingkai sistem kehidupan ajaran Allah SWT, khilafah rasyidah ‘alaa minhajin nubuwwah. Lihat

QS Ash-Shaaf: 10 – 12.

Menjadikan harta perniagaan sebagai sesuatu yang dikendalikannya, bukan yang mengendalikannya.

Abdurrahman bin Auf pernah menyumbangkan seluruh barang yang dibawa oleh kafilah perdagangannya kepada penduduk Madinah padahal seluruh kafilah ini membawa barang dagangan yang diangkut oleh 700 unta yang memenuhi jalan-jalan Kota Madinah. Dengan begitu banyak harta yang diinfaqkan di jalan Allah, ketika meninggal beliau masih juga meninggalkan harta yang sangat banyak yaitu terdiri dari 1.000 ekor unta, 100 ekor kuda, 3.000 ekor kambing dan masing-masing istri mendapatkan warisan 80.000 dinar. Artinya, kekayaan yang ditinggalkan Abdurrahman bin Auf saat itu berjumlah 2.560.000 dinar.

Harta kekayaan serta perniagaan yang kita lakukan bisa jadi menjadi ujian dan cobaan buat kita. Hendaknya kita, para pengusaha, senantiasa waspada. Janganlah harta serta bisnis yang kita lakukan memalingkan kita dari Allah SWT, hingga kita dikendalikannya dan menjauhkan kita dari Allah SWT. Sebaliknya, marilah kita jadikan harta serta bisnis-bisnis kita sebagai kendaraan bertaqorrub kepada Allah serta menjadi bagian eja wantah khoirun naas anfa”uhum lin naas. Lihat QS Al-Munafiquun: 9.

Oleh karena itu, wahai para pengusaha, mari kita berkomitmen menjaga setiap sen harta kekayaan kita berasal dari yang halal saja, menjaga dalam membelanjakan setiap sen harta kita di jalan yang hanya dihalalkan oleh Allah SWT, dan meringankan diri kita untuk menginfaqkan harta kekayaan kita demi berkontribusi dalam perjuangan di jalan Allah SWT. Wallahu a’lam bish-showab

sumber referensi: mediaumat.com