Motivasi

Sudahkah Anda mengerti Nafkah dalam Pandangan Islam itu?

Posted On Februari 2, 2016 at 11:31 am by / No Comments

y9215 Germany, Baden-Wuerttemberg, Lake Constance, Unteruhldingen. The lake dwellings of the Pfahlbau Museum of Unteruhldigen. The buildings on stilts are reconstructions of dwellings from the Bronze and Stone Age.  - Deutschland, Baden-Wuerttemberg, Bodensee, Unteruhldingen. Pfahlbaumuseum von Unteruhldingen. Die Pfahlbauten sind eine Rekonstruktion der Pfahlbaudoerfer aus der Bronzezeit und Steinzeit.  - 31.05.2005.  - NUR DIGITAL ONLY, 48 MB. copyright: Berthold Steinhilber / Bilderberg

Pasti Sahabat yang sudah menikah atau bekerja sebagian banyak yang mengerti arti nafkah, untuk memaknai terlebih lanjut nafkah dalam pandangan atau kacamata Islam, silahkan Anda lihat arti ayat Al-Qur’an berikut ini:
“Hendaklah orang yang mampu, memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rizkinya, hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan (sekedar) apa yang Allah berikan kepadanya ” (QS. ath Thalaq :7)
Diriwayatkan pada saat itu Rasulullah baru tiba dari perang Tabuk, banyak sahabat yang ikut beserta Nabi dalam peperangan ini. Tidak ada yang tertinggal kecuali orang-orang yang berhalangan dan ada uzur.
Saat mendekati kota Madinah, di salah satu sudut jalan, Rasulullah berjumpa dengan seorang tukang batu. Ketika itu Rasulullah melihat tangan buruh tukang batu tersebut melepuh, kulitnya merah kehitam-hitaman seperti terpanggang matahari.
Rasulullah bertanya, “Kenapa tanganmu kasar sekali?” lalu Si tukang batu pun menjawab, “Ya Rasulullah, pekerjaan saya ini membelah batu setiap hari, dan belahan batu itu saya jual ke pasar, lalu hasilnya saya gunakan untuk memberi nafkah keluarga saya, karena itulah tangan saya kasar.”
Rasul pun menggenggam tangan itu, dan menciumnya seraya bersabda,
“Hadzihi yadun la tamatsaha narun abada”, ‘inilah tangan yang tidak akan pernah disentuh oleh api neraka selama-lamanya‘.
Itulah sedikit kisah mengenai kemuliaan mencari nafkah untuk keluarga. Maka, sebelum kita lebih jauh mengurusi hal lainnya di dunia, tengoklah dulu kewajiban yang dekat. Apa kita sudah melaksanakannya dengan baik? Sudahkah bersungguh-sungguh di bidang kita masing-masing? Apablia belum, Kenapakah kita malah sibuk mengurus yang lainnya, sedangkan yang dekat terlantarkan? Berkacalah seperti perbahasa berikut kuman di seberang laut tampak, gajah di pelupuk mata tak tampak.
“Sesungguhnya Allah suka kepada hamba yang berkarya dan terampil (professional atau ahli). Barangsiapa bersusah-payah mencari nafkah untuk keluarganya maka dia serupa dengan seorang mujahid di jalan Allah Azza wajalla.” (HR. Ahmad)
“Barangsiapa pada malam hari merasakan kelelahan dari upaya ketrampilan kedua tangannya pada siang hari maka pada malam itu ia diampuni oleh Allah.” (HR. Ahmad)
“Sesungguhnya di antara dosa-dosa itu, ada yang tidak dapat terhapus dengan puasa dan shalat”. Maka para sahabat pun bertanya: “Apakah yang dapat menghapusnya, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: ”Bersusah payah dalam mencari nafkah.”” (HR. Bukhari)
“Sesungguhnya Allah Ta’ala senang melihat hambaNya bersusah payah (lelah) dalam mencari rezeki yang halal.” (HR. Ad-Dailami)
“Sesungguhnya Allah mencintai jika seseorang melakukan suatu pekerjaan hendaknya dilakukannya secara itqon (profesional)”. (HR Baihaqi dari Siti Aisyah RA)
Apakah Anda ingin berkontribusi untuk islam?
Apakah Anda ingin berjuang di jalan Allah?
Apakah Anda juga ingin jihad?
Menurut saya, Jihad tidak harus kita pergi ke medan perang dengan membawa pedang menghadapi kaum jahiliyah-jahiliyah.
Siapakah yang mengurus generasi-generasi muda islam yang masih kecil, jika semua yang dewasa mati di medan perang?
Siapa yang akan menjamin esok hari para wanita dan anak-anak Islam bisa makan?
Islam butuh orang yang benar-benar berguna. Jangan gegabah, memandang selintas saja, berfikirlah untuk melihat jangka panjang dan bandingkan kontribusi yang bisa Anda dapat apabila pergi ke medan perang membawa pedang sekarang, dengan Anda menjadi muslim pintar yang menggunakan otak untuk menghasilkan modal bagi saudara-saudara jihadmu, bagi investasi islam, bagi wanita, dan terutama bagi generasi-generasi muda islam. untuk membangun dan membawa Peradaban islam sampai akhir kehidupan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *