info@edubuku.com 0882-164-35325
Lika-Liku Perjalanan Hidup
15 July, 2016
0

hixhreti

Menapaki jalan hidup kadang seperti menggoreskan kuas pada sebuah kanvas lukisan. Mulus tidaknya goresan sangat bergantung pada jiwa sang pelukis. Jika jiwanya kering dan gersang, lukisan pun hanya berupa coret-coret tak bermakna apa-apa. Tapi, ketika jiwa sang pelukis terang dan lapang, lukisannya pun akan terlihat bermakna, berkelas dan tentu saja berharga.

Ada beberapa hal kenapa manusia selalu diselimuti kecenderungan rasa “salah”. Pertama, salah paham soal makna hidup. Kalau hati tak lagi mampu melihat secara jernih arti hidup, manisia akan mempunyai penafsiran sendiri-sendiri soal apa apa itu kehidupan, untuk apa kita dihidupkan dan akan kemana kita setelah kehidupan ini berakhir. Misalnya, ada manusia yang menjalani hidup hanya sebagai upaya untuk mencapai kepuasan lahir dan batin. Padahal kepuasan sifatnya semu dan sementara, karena dalam hidup akan selalu ada ketidaknyamanan, gangguan dan cobaan.

Kedua, kurang paham kalau keimanan harus terus di refresh. Allah akan selalu menguji keimanan kita dengan banyak cobaan. Inilah yang kadang sulit kita pahami. Secara teori mungkin orang akan tahu dan mungkin hafal ketika dihadapkan pada cobaan kita harus berbuat apa. Tapi ketika cobaan sebagai sebuah kenyataan, reaksi akan lain. Iman hanya kita jadikan tempelan semata.

Saad bin Abi Waqqash pernah bertanya pada Rasulullah saw. “Ya Rasulullah, siapa yang paling berat ujian dan cobaannya?” Beliau saw. menjawab, “Para nabi kemudian yang menyerupai mereka dan yang menyerupai mereka. Seseorang diuji menurut kadar agamanya. Kalau agamanya lemah dia diuji sesuai dengan itu (ringan) dan bila imannya kokoh dia diuji sesuai itu (keras). Seorang diuji terus-menerus sehingga dia berjalan di muka bumi bersih dari dosa-dosa.” (Al-Bukhari)

Mestinya kita sadar bahwa jalan hidup itu tak selamanya indah. Harus terus segar dalam jiwa seorang hamba Allah bahwa didepan sana akan banyak sekali cobaan dan godaan dunia.

Perhatikanlah senyum-senyum para generasi terbaik yang pernah dilukis umat ini. Di antara mereka ada Bilal bin Rabah, Ada Amar bin Yasir, dan lainnya mereka adalah yang terus tersenyum dalam menapaki pilihan hidup yang teramat sulit. Tanpa sedikit pun ada cemas, gelisah, dan penyesalan. Mereka telah melukis hiasan termahal dalam hidup dengan tinta darah dan air mata juga dengan kecintaan luar biasa terhadap segala apa-apa yang datang dari Allah Ta’ala.

Bagi mereka kebahagiaan hakiki adalah ketika Allah SWT Ridho. Segala kesulitan dan kesempitan kan terbayar kelak dikehidupan kini atau nanti.

oleh : Agung Nugroho Susanto – Penulis Buku “Jurus Jitu Membangun Bisnis Berkah Omset Milyaran