info@edubuku.com 0882-164-35325
Bisnis
Melariskan Dagangan dengan Pencitraan
18 April, 2017
0

Yang namanya pencitraan itu selalu berbuah manis. Dagangannya laris, walau sebenarnya yang disembunyikan itu kebusukan. Pencitraan seperti ini sudah biasa dilakukan oleh pedagang sejak masa Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Sejak masa Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Dari Abu Hurairah, ia berkata,
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- مَرَّ عَلَى صُبْرَةِ طَعَامٍ فَأَدْخَلَ يَدَهُ فِيهَا فَنَالَتْ أَصَابِعُهُ بَلَلاً فَقَالَ « مَا هَذَا يَا صَاحِبَ الطَّعَامِ ». قَالَ أَصَابَتْهُ السَّمَاءُ يَا رَسُولَ اللَّهِ. قَالَ « أَفَلاَ جَعَلْتَهُ فَوْقَ الطَّعَامِ كَىْ يَرَاهُ النَّاسُ مَنْ غَشَّ فَلَيْسَ مِنِّى »
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melewati setumpuk makanan, lalu beliau memasukkan tangannya ke dalamnya, kemudian tangan beliau menyentuh sesuatu yang basah, maka pun beliau bertanya, “Apa ini wahai pemilik makanan?” Sang pemiliknya menjawab, “Makanan tersebut terkena air hujan wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Mengapa kamu tidak meletakkannya di bagian makanan agar manusia dapat melihatnya? Ketahuilah, barangsiapa menipu maka dia bukan dari golongan kami.” (HR. Muslim no. 102)
Dari ‘Abdullah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ غَشَّنَا فَلَيْسَ مِنَّا، وَالْمَكْرُ وَالْخِدَاعُ فِي النَّارِ.
“Barangsiapa yang menipu, maka ia tidak termasuk golongan kami. Orang yang berbuat makar dan pengelabuan, tempatnya di neraka.” (HR. Ibnu Hibban 2: 326. Hadits ini shahih sebagaimana kata Syaikh Al Albani dalam Ash Shahihah no. 1058)
Jual beli yang mengandung penipuan atau pengelabuan di antaranya adalah jual beli najesy yang sudah dibahas sebelumnya. Contoh bentuk jual beli ini adalah jual beli yang dilakukan dengan mendeskripsikan barang melalui gambar, audio atau tulisan dan digambarkan seolah-olah barang tersebut memiliki harga yang tinggi dan menarik.Padahal yang ada hanyalah trik untuk mengelabui pembeli. Termasuk dalam hal ini adalah jual beli dengan menyembunyikan ‘aib (cacat) barang dan mengatakan barang tersebut bagus dan masih baru, padahal sudah rusak dan sudah sering jatuh berulang kali. Intinya, setiap tindak penipuan dalam jual beli menjadi terlarang.
Pencitraan seperti inilah yang biasa ada pada pedagang. Media yang ada saat ini biasa pula melakukan pencitraan pada satu produk tertentu. Ibarat yang disebutkan dalam hadits, tumpukan gandum terlihat “waw”, super bagus, berkualitas, dan disukai orang banyak. Namun sifat busuk ternyata tersembunyi dalam dagangan tersebut.
Sebagai seorang muslim, hendaklah kita mencari rezeki dengan cara yang baik dan benar. Jangan melakukan suatu hal yang dapat merugikan orang lain seperti menipu, dll. Cara kita dalam berjualan/berusaha juga dapat menjadi penentu tentang halal atau tidaknya rezeki yang akan kita peroleh. Jangan sampai usaha yang sudah kita lakukan menjadi sia-sia dan tidak mendapat keberkahan di mata Allah S.W.T.
Bagaimana caranya agar kita terhindar dari perilaku curang maupun riba yang dapat menjerumuskan kita ke dalam dosa? Di dalam buku Jurus Buka Ratusan Cabang Tanpa Riba, terdapat cara-cara jitu untuk mengembangkan bisnis kita dengan cara yang sesuai dengan pandangan dan syariat Islam. Buku ini memiliki banyak sekali manfaat yang tak terduga. Info lebih lanjut bisa lihat di toko(dot)edubuku(dot)com atas SMS/WA 088216435325.
Sebagai seorang pembeli Cerdaslah, jangan selalu termakan dengan pencitraan.
.
.
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal