info@edubuku.com 0882-164-35325
Bisnis
Menyembunyikan Cacat Barang, Transaksi Tak Sah?
31 May, 2017
0

Hukum Menyembunyikan Cacat Barang
Mendapatkan keuntungan besar dalam berdagang adalah motivasi nomor wahid umumnya pedagang. Keberkahan harta, bukanlah prioritas. Tak heran jika mereka melakukan kecurangan dengan menyembunyikan cacat barang. Sahkah transaksinya? Halalkah uang yang didapatkan? Bolehkah pembeli mengembalikan barang?
Oleh: Ustadz DR. Erwandi Tarmidzi, MA
Aib (cacat) barang yang dimaksud oleh para fuqaha adalah segala hal yang terdapat pada barang yang menyebabkan nilai, mutu dan harganya berkurang, baik dalam jumlah besar ataupun kecil.
Pedagang Wajib Menjelaskan Aib Barang kepada Pembeli
Seorang pedagang Muslim dapat meraih derajat yang tinggi bersama para Nabi di akherat kelak dan mendapat keberkahan hidup di dunia pada hartanya melalui profesinya sebagai pedagang yang jujur menjelaskan setiap cacat barang yang ia ketahui kepada calon pembeli.
Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
“Para pedagang yang jujur, dapat dipercaya akan bersama para Nabi, siddiqin dan orang-orang yang mati syahid“.—HR Tirmizi, ia berkata: derajat hadist ini hasan.
Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam juga bersabda,
“Jika penjual dan pembeli jujur serta menjelaskan cacat barang niscaya akad jual-beli mereka diberkahi. Namun, jika keduanya berdusta serta menyembunyikan cacat barang niscaya dihapus keberkahan dari akad jual-beli mereka“.—HR Bukhari dan Muslim
Oleh karena besarnya pahala yang diterima oleh pedagang yang jujur dan ancaman untuk pedagang yang menyembunyikan cacat barang, para ahli fiqh mengatakan wajib hukumnya menjelaskan cacat barang kepada calon pembeli.
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya, maka tidak halal ia menjual suatu barang yang terdapat cacat kepada saudaranya, melainkan ia jelaskan cacatnya“.—HR Ibnu Majah; hadist ini dishahihkan oleh Al-Albani
Dalam hadist di atas, Nabi juga menjelaskan bahwa menjelaskan aib barang merupakan konsekuensi ukhuwwah islamiyah (persaudaraan seagama Islam). Maka sangat layak Nabi Shallallahu alaihi wa sallam tidak memasukkan para pedagang penipu ke dalam kelompok saudara se-Islam.
Oleh karena itu, sebagian ahli fiqh menempatkan ghissy [Arab: غش] (penipuan/tidak menjelaskan aib barang) dalam deretan dosa besar, karena termasuk memakan harta orang lain dengan cara yang batil.
Khiyar Aib Hak Pembeli Barang Cacat
Seseorang yang membeli barang, ternyata barang tersebut cacat dan dia tidak mengetahui sebelumnya dan juga tidak diberitahu oleh penjual, dia berhak memilih di antara:
• Meneruskan pembelian tanpa kompensasi apa pun dari pihak penjual, sebagaimana disebutkan dalam hadist tashriyah di atas, atau
• Mengembalikan barang dan menarik kembali uang yang telah dibayar, serta keuntungan memakai barang sejak waktu pembelian hingga pengembalian tidak perlu ia bayar.
• Menahan barang serta meminta sebagian dari uang yang telah dibayarkannya sesuai dengan kekurangan harga barang tersebut dikarenakan cacat—uang ini disebut dengan Arsy [arab: أرش] (kompensasi). Ini merupakan pendapat mazhab Hambali.

Pull Quote:
1. Para pedagang yang jujur, dapat dipercaya akan bersama para Nabi, para sahabat dan orang-orang yang mati syahid
2. Ulama berpendapat bahwa status akad jual-beli barang cacat yang tidak dijelaskan oleh penjual hukumnya sah, akan tetapi penjualnya berdosa.